Kesedihan dalam dadaku sedang memuncak. Semacam bom waktu atau apapun yang meledak lainnya.
Udara menipis setiap kali ingatan memutar ke arahmu. Air mata mengenang, berkali-kali kuseka dan dia mengenang lagi.
Semacam kekecewaan bertubi-tubi, tentang kamu yang tidak pernah sadar akan kehilangan aku yang bersembunyi di bawah meja kopimu.
Aku dekat, di bawahmu. Bersembunyi di dekatmu. Berharap mendengar kehilanganmu tentang keberadaanku yang tidak terlihat.
Tapi yang terdengar justru ketidak pedulian. Kamu tidak peduli, bahkan tidak sadar kalau bangku depanmu kosong.
Bangku yang aku duduki tadi, saat kamu memalingkan wajah beberapa detik. Aku bersembunyi di kolong meja. Diam, menunggu. Aku tertidur, menunggu kepeduliamu. Lalu saat bangun kamu tidak lagi duduk di situ.
Aku yang gila mencarimu ke semua penjuru. Kamu tidak di situ. Aku mencarimu terus. Kamu tidak ada. Kamu meninggalkan aku, yang bersembunyi di dekatmu.
Kamu pulang lebih dulu, tanpa sadar kalau aku tidak ada bersamamu seperti saat kita pergi.
Aku diam...
Aku kembali masuk ke bawah meja kopi tempatku sembunyi tadi. Aku menunggumu lagi. Mengulang kekecewaanku lagi. Menghantam hatiku sendiri. Membiru lebamkan tubuhku. Aku melukai hatiku berkali-kali.
Waktu kehilangan cara mengusirku dari menunggumu. Sampai akhirnya aku tidak menemukan apapun. Aku diam...
Aku masih bersembunyi di dekatmu. Masih berharap mendengar kepedulianmu. Lama-lama aku kesal. Mencoba menghapus namamu, tapi tidak menghapusmu. Mencoba menghapus namamu. Bukan mengahapus rasaku.
Aku masih bersembunyi. Kali ini di balik punggungmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar