Jumat, 11 Juli 2014

Sketsa Mimpi : #1



Rumah kayu sederhana, di tengah hutan atau di salah satu sudut kota kecil yang asing untuk kita, itu adalah mimpi yang pernah aku ucapkan, iya bukan? Aku ingin tinggal di tempat yang jauh dari kesibukan kita sekarang. Nanti saat kita mulai menua, tidak terlalu tua, tapi mungkin di usia sekitar awal empat puluhan. Aku ingin menghabiskan waktu denganmu, mengingat Tuhan, menghargai waktu. Bahkan aku berharap tinggal di tempat yang tidak ada listrik, bergelap-gelap berdua dalam doa, tidak perlu ada Tv, cukup suara kita, aku ingin penghujung waktu benar-benar mengisi hidupku denganmu. Mengganti hari-hari kita yang pernah dicuri kesibukan.

"Aku ingin tinggal di rumah kayu sederhana"

"Apa pun maumu"

"Aku ingin denganmu saja"

"Aku pun begitu"

Percakapan singkat yang manis. Aku rasa berbuka puasa dengan membaca pesan-pesanmu sudah sangat mengisi energiku, aku tidak tahu di antara kita siapa yang beruntung mendapatkan siapa, yang jelas kita berdua beruntung karena saling memiliki.

Ratus ribu jutaan sketsa mimpi yang terucap tak pernah putus aku aamiin--kan, kau tahu setinggi apa aku sandarkan cita-cita dan pengharapan pada pundakmu? Sangat tinggi. Aku yakin kau sangat kokoh untuk menampung mimpi-mimpiku. Mungkin aku seperti mesin reproduksi mimpi dan kau kenyataan yang berwujud, bisa kupeluk, dan menampar-namparku untuk terus mewujudkan semuanya. Aku ingin denganmu, dalam setiap doa ucap itu tak putus kupinta.

Aku ingin menikmati udara pagi, berjalan tanpa alas kaki, menyium aroma mawar pagi hari, memasak sayur-sayuran yang kita tanam di halaman belakang, berternak itik, ayam dan ikan. Sebulan sekali kita ke kota dengan mobil pick up untuk membeli perlengkapan rumah, perjalanan jauh dan tua yang menyenangkan. Sepanjang jalan menikmati lagu-lagu kini yang akan berubah jadi lagu-lagu nostalgia nanti. Menyambut senja bersama terpaan hangat aroma dandelion yang sederhana, Selepas makan malam, kita akan duduk di beranda, menelpon anak-cucu kita, menanyakan kabar mereka, melihat bintang, hujan, atau apapun yang diturunkan Tuhan untuk kita nikmati, mengisi dan terus mengisi. manis--sangat--manis.

Malam hari, menjelang tidur aku akan memelukmu erat, dengan balutan selimut hangat. Tertawa-tawa tentang apa-apa yang konyol, bercerita tentang hari-hari pernah sibuk yang membosankan. Merencanakan bangun pagi dan berjalan-jalan untuk kesehatan, menanyakan besok kau mau makan apa? Dan seperti yang sudah aku tahu, kau pasti akan menjawab, sambal goreng telur puyuh atau ayam goreng dan semua makanan yang bersambal. Sebelum tidur kita akan berdoa, untuk terus melihat satu sama lain sampai pagi datang dan datang dan datang mengulang hari, mengulang apapun yang terjadi denganmu, sampai kita benar-benar pergi pada perjalanan jauh yang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar