Minggu, 15 Desember 2013

Yang Tersisa Dari Cinderella

Dentang bel waktu mengabarkan malam pada usia sebelas.
Di ranjang itu, antara aku dan ayah, ada kesepian yang berdiri tanpa pembatas.
Tapi kau, Ayah, tlah menghalau kesepianku dan rindu dengan dongeng masa lalu.
Sekiranya kesepian masih mampu ditangguhkan; pada nama ibu setebal buku.

Ayah, dongengkan padaku; seorang wanita yang pernah kau sebut Cinderella dalam cintamu.
Yang seharusnya pula kucintai dia sebagai Ibu.
Adakah kesepian telah mencair sejak kita kehilangan?

Nak, Cinderella itu cintaku …

Ayah, ceritakan padaku; tentang wanita yang kau sebutkan padaku sebagai Ibu.
Yang kini masih tersimpan rapi di laci ingatanmu.
Adakah jejak langkahnya telah menjadi kristal di jalanan kenangan?

Nak, Cinderella itu Ibumu …

Kini aku berjalan menyusuri kota kenangan dengan langkah dari sepatu kacamu yang tersisa.
Sebab, di sepatu itu kutemukan pantulan cinta dari sebagian langkah kakimu di surga.

Ibu, kau tetaplah nama setebal buku dongeng tentang cinta.
Aku, ayah dan segala tentangmu tetap hidup sebagai cerita.


Puisi dari: http://Kopigenic.wordpress.com
Twitter: @kopigenic

Tidak ada komentar:

Posting Komentar