Selasa, 03 Desember 2013

Tak Habis Kamu

" Lalu dua pasang kaki berpacu maju, berjalan untuk setiap langkah-langkah kemenangan masa depan kita. Aku? Adalah si kaki yang tak putus asa mengikuti. Mencoba mengimbangi tapi tidak lebih dulu darimu. Iya, begitu salah satu caraku mencintaimu "

Awalnya jarak ini membunuhku, membuatku kesal dan tidak semangat menghadapi apapun yang terjadi. Kerap membuat ulah, tapi setelah lama aku kembali ingat pada kata-kata yang ku ucap sendiri berulang kali saat ragu mulai menyiksa diri. Kata-kata ini salah satu penguatku dalam prihal menunggu. 'Bumi berputar tulang rusuk tidak pernah tertukar'.

 Hubungan jarak jauh memang tidak mudah, tapi yang mudah itu bukannya tak menyenangkan? Dimana pembuktian kekuatan. Aku percaya ini ujian dan kita bisa bertahan. Aku mencitaimu dan sangat nyaman.

 Tidak berpeduli seberapa jauh kamu pergi, aku tau kaki itu akan kembali membawamu kesini. Iya, aku tau kamu tak pernah pergi. Hanya mengejar cita-cita kita, dan saat ini harus saling sendiri tapi tak pernah melepaskan hati. Berat, itu lah kenapa aku benci senja setelah kepergianmu ke kota itu. Aku merasa waktu bertahun-tahun lalu jadi sementara seperti senja.

 Saat kau tidak disisiku. Saat pertemuan jadi langka, dan berpatok pada bulan. Aku rindu. Airmata kita selalu jadi doa, bagaimana kita bedua tertimbun rindu dalam-dalam. Lalu pada malam-malam saling membayang pelukan yang biasa memenuhi setiap jengkal sayang. Tidak apa, ini tidak lama. Nanti kita kembali, mempersempit ruang. Menghangatkan rindu. Sudahlah, besok aku menulismu lagi sayang. Selamat tidur R.S :*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar