Senin, 09 Desember 2013

Peri Hujan

Via menghitung bunyi tik..tik.. Diatas atap rumahnya. Hujan turun lagi sore ini. Dia selalu gagal dalam perihal menghitung hujan, jelas saja mereka selalu datang keroyokan. Via selalu tak sabar menunggu hujan berhenti. Bukan karena dia tidak menyukainya, tapi karena dia tidak sabar ingin melihat peri kecil disela-sela kelopak jarum asoka yang katanya selalu muncul sehabis hujan.

 "Ibu-ibu, Via pernah lihat bu, dibalik bunga jarum itu ada peri dengan sayap kecil bu" yakinnya pada ibu.

Wanita yang di panggil dengan sebutan ibu itu pun hanya tertawa. " Tidak ada peri sayang, tidak pernah ada yang namanya peri nak" selalu itu yang ibu jawab. Membuat via cemberut dan semakin bertekad untuk menunjukannya.

Hujan berhenti via berlari kehalaman depan, kerimbunan asoka yang di yakininya tempat peri-peri meminum sari dari bunga jarum. Ketemu! Dimasukannya peri kedalam botol kaca bekas sirup. Dibawanya kedepan ibu.

"Ibu ini peri"

" Via itu bukan peri nak, itu pelangi "

Tidak ada komentar:

Posting Komentar