Sebelum pindah aku sempat bermain-main dengan waktu, mungkin dia marah padaku dan terus mengganti dirinya dengan waktu-waktu yang baru. Dan aku selalu berkawan dengan waktu baru tanpa sempat berkenalan dulu, karena mereka terus berganti dan berganti tidak pernah mau sebentar berhenti. Mereka terus berpindah.
Setelah itu terjadi saat ini banyak kata "seharusnya" yang keluar dikepalaku. Satu seharusnya saja, aku rasa cukup dan memang dibutuhkan untuk kesadaran pada satu waktu.
Tapi "seharusnya-seharusnya" yang lain hanya membunuh waktu yang lain lagi. Penyesalan itu tidak berguna yang berguna itu perubahan. Menyesal, menangis dan me-yang lainnya lah pada detik ini lalu setelah itu berhenti dan berpikir sesuatu yang baru pada menit itu. Bagaimana memperbaiki yang lalu. Karena kenyataannya sesuatu tidak pernah bisa terulang sama untuk kedua kali, sematang apapun aku coba melakukannya.
Dari banyak hal, kamu salah satu hal yang aku syukuri. Membuat sedikit (banyak) kesadaranku berfungsi setiap hari. Aku sering mengulang kalimat ini untuk melunakan kebebalan isi kepalaku sendiri " bangun dari mimpi mungkin sulit, tapi akan lebih kesulitan lagi saat kita tetap tertidur dan terbangun dengan tubuh menua, merenta".
"Penyesalan" dan kata "seharusnya" hanya akan semakin membunuh waktu jika kamu lakukan berkali-kali dan bertubi-tubi tanpa berniat untuk melangkah PINDAH dari waktu yang tidak pernah kembali. Aku selalu ragu untuk pindah awalnya, pindah dari apapun, kegiatanku yang mungkin tidak seharusnya aku. Tapi apa yang kita pertahankan saat rumah adalah kontrakan yang memiliki massa tenggang dan kita tidak diizinkan mengontrak lagi oleh si pemiliknya? Tidak ada kan? selain pindah dan menetap. Indah!
#17hari #SebelumPindah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar