Lalu pada siapa sepi-sepiku mengadu
Saat kamu tak lagi ingin mendengarkan ku
Lalu pada siapa kata-kataku berteduh
Saat itu sudah mulai menjenuhkan mu
" Terkadang ada orang yang lebih mendengarkanmu. Dari pada orang yang kau harap mendengarkan mu "
Lalu pada tangisan yang seperti apa lagi aku meraung
Apa harus mengemis dulu untuk memasukan suaraku sampai ke telingamu?
Atau harus nadiku teriris agar kamu paham bagaimana sakitnya di telantarkan saat banyak tangan ingin melindungimu?
Aku dengan semua marahku yang tersimpan
Dan kamu dengan semua ketidak perdulianmu yang terus begitu
Harusnya kamu sadar bagaimana hati ini penuh untuk memuja satu nama dibawah Tuhan dan orangtua ku
Tapi kamu beku, seperti es yang membuat setiap jengkal otakku kaku.
Tamparan itu di hatiku, sayang.
Sakitnya disini
Mana bisa kau lihat
Jika luka mungkin bisa kau obati
Tapi hati yang sembuh bentuknya tetap tak pernah sama lagi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar