Senin, 25 November 2013

Ibu Guru

" Bersiap... Beri salam... Selamat hari guru, Bu. " Teriak kami serempak lalu menghambur, mencium punggung tangan yang penuh kerut itu. Berapa lama punggung tanganmu tak kucium batinku.

 Mata Bu Leni berkaca-kaca saat salam itu kami ucapkan di depan rumahnya. Dia guruku, guru tertua di sekolahku dulu. Oh Ibu, pengabdianmu tak sepadan dengan penghargaan yang kau dapat. Istilah pahlawan tanpa tanda jasa melekat erat pada tubuh-tubuh tua milikmu.

 Beliau sudah pensiun, tapi masih sering datang ke sekolah untuk mengajar, masih juga membuka les sore di rumahnya. Bagaimanapun mendidik sudah jadi jiwa untuk raga tuanya, tak berbagi ilmu sehari seperti tak makan katanya. Tawa lepas siang ini memang terlihat seakan tanpa beban, tapi pundak-pundak lemah yang membungkuk itu bukti betapa berat beban yang dipikulnya selama ini.

 Masuk kedalam rumahnya, kami mendapati papan tulis dan sekotak kapur tulis, tumpukan buku, jam tua, kursi usang dan televisi yang entah masih berfungsi atau tidak. Hanya ada satu kamar, satu kamar mandi dan sebuah dapur sempit.
" Kami memasak makanan kesukaan ibu. ", kataku riang. Kaca-kaca di matanya kembali mengulang.Ibu aku tau, ibu sedang tidak begitu baik. Ada perasaan bergejolak yang tersembunyi di linang-linang mata kaca tua itu.

 Ibu mengapa kau begini, hidup di gang sempit dengan rumah kredit yang belum lunas.

" Bapak sudah pergi dulu, kalau ada bapak ibu mungkin tidak begini."

Itu katamu masih dengan senyum dan keiklasan yang sama, entah apa yang membuatmu menjawab hal itu setelah untaian tanya hatiku tentang keadaannya. Mungkin ibu membaca tanda tanya dalam tatap-tatap mata kami.

 Ibu guruku punya rumah, rumah yang dikuasai anaknya. Rumah hasil jerih payahnya dulu dengan almarhum suaminya, rumah tempat dia membesarkan putri dan putranya. Dia memang diperbolehkan tinggal disana, tapi lebih memilih hidup sendiri tanpa mau merepotkan anak-anaknya. Entah sikap apa yang ditunjukan putrinya sehingga ibu lebih memilih sendiri memikul lelah-letihnya yang masih belum juga berhenti.

" Ibu sudah tua, apa tidak kesepian sendiri begini? " tanya salah satu temanku.

" Datanglah sesekali kemari, agar ibu tidak sepi. "

Tuhan, hatiku begitu nyeri mendengar jawaban yang terlontar, tertelan pahit begini. Betapa kami anak-anak didiknya ini tidak tau balas budi, sampai ia harus meminta kedatangan kami. Betapa tidak kami sadari bagaimana pahlawan ini hidup dalam sepi. Permintaan kecil yang menusuk hati. Siang ini langit haru mendengar pintamu. Mendung dan hujan pun seakan menangisi kesepian-kesepianmu, Ibu guruku.

 Sebelum kembali salah satu temanku mendadak menyanyikan lagu ini, kami mengikuti


"Terima kasihku, ku ucapkan
Pada guruku yang tulus
Ilmu yang berguna
Slalu di limpahkan
Untuk bekalku nanti

Setiap hariku di bimbingnya
Agar tumbuhlah bakatku
Kan ku ingat slalu nasihat guruku
Trima kasihku ucapkan"


Tangis ibu tumpah, kami pun ikut ruah.

" Selamat Hari Guru Nasional. Pahlawan tanpa tanda jasa. Tanpa guru kami masih buta, engkau lilin penerang dunia yang terlupa "


Tidak ada komentar:

Posting Komentar