Rabu, 16 Juli 2014

Surat Benci Untuk Kalian

Dicintai kalian? Biasa saja. Apa yang luar biasa dari kalian? Kalian cuma orang-orang bodoh yang tertawa dengan lelucon yang sama berkali-kali, yang menangis dan marah saat salah satu tersakiti, yang terus dia di grup whatsapp dan melihat last seen satu sama lain.

Kalian biasa saja, tidak ada lebihnya, kekurangan penuh di mana-mana, sering menyebalkan, tidak pernah tepat waktu, bebal. Kalian biasa saja, tapi untukku ini sudah sempurna. Ada orang-orang yang bisa selalu membuat aku marah dan mengulang rindu berkali-kali ya kalian. Ada orang-orang yang membuat aku mengingat proses yang dulu juga aku jalani ya kalian. Ada orang-orang gila yang menggoceh tengah malam sendirian, bahkan si gila Dhika berbicara dan menetap terus di grup whatsapp pertama mengoceh tanpa ada yang mendengar. Si gila melda berhujan-hujan demi pulsa. Si gila gayung yang siap sedia setelah perang selesai. Si gila nini yang sekarang sibuk dan selalu dirindukan (gombal), si gila yani, ummi, yang entahlah... mungkin kotak tertawa memang benar-benar ada, manusia ini selalu konyol. Lalu bayu "we miss you" ini udah perwakilan kecil dari semua rindu kami yang entah harus gimana numpahinnya, makasih menjadi orang yang tetap tenang saat yang lain kebakaran. Aku sayang kalian, mungkin, ya sedikit.

Jadi kita pernah hujan-hujanan di dalam sana, mendengar cerita-cerita yang entah apa. Melontarkan kata-kata yang lebih kasar dari apapun untuk ditertawakan, berharap hp ummi error setiap kita semua lagi pada ngomong kotor.

Kita pernah berantem dan baikan, salutnya ya kita enggak pernah pergi. Aku bahkan pernah ngambek sama Dhika dan ngusir dia karena nggak pernah ngomong tapi dia enggak mau "kalau mau kick, gpp" cuma itu katanya.

Ummi, kita pernah telponan dan nangis-nangisan tengah malam, yes? Makasih udah jadi penenang dalam sakit-sakit yang sering muncul tiba-tiba.

Melda, entahlah. Ada banyak aku di dalam kamu, enggak keseluruhan, cuma cara mencintai kita sama (ummi bilang). Bedanya kamu masih bisa seperti ini dan aku yang sekarang sudah terlalu angkuh untuk mengakui, aku mengeraskan diri dan jika patah, patahannya pun sering mencapkan serpihan-serpihan sakit yang kacau. Ada banyak aku di kamu, dari cara kita mencintai. Aku harap kamu juga menemukan pelabuhan tanpa berpindah-pindah seperti aku, nanti.

Nini, cemungudh eah neng. Aku teh sayang pisan ke kamu. Secapek apapun semangat jangan kendor, makan dijaga, jangan lupa shalat dan doa. Dan jangan lupa ngabarin keadaan kamu. Seneng ya sama kerjaannya. Mudah rezeki :*

Gayung, yung rumah tetangga ke bakar dua minggu lalu, lu kemana?
"Maaf kak, tadi habis nimba pake besekan sayur yang bolong-bolong"
WESBIASYAAAA

Bayu, hallo tuan penyair. Inget dulu kita duel? Tapi endingnya aku jadi pasangan Yani Anisha malam itu dan kamu eng ing eng, sama ucup. Kamu kemana? Kami kangen kamu, kamu tahu sekarang sejak enggak ada kamu, aku enggak bisa puasa marah-marah soalnya si gayung nimba pake besek, kan dulu kamu yang suka ngademin kita, kamu kayak pohon bay, dilempar pake batu selalu membalas dengan buah walau kadang rantingnya sekalian. Hahahaha "we miss you"

Makasih kalian, aku bangga dicintai orang-orang yang enggak pernah mau melangkah pergi "se-bangsat-apa" berulah, tetap ada yang paham dan anggap "ah, biasa ini mah. Ah, entar juga adem sendiri" sampai tua ya.

Jumat, 11 Juli 2014

Sketsa Mimpi : #1



Rumah kayu sederhana, di tengah hutan atau di salah satu sudut kota kecil yang asing untuk kita, itu adalah mimpi yang pernah aku ucapkan, iya bukan? Aku ingin tinggal di tempat yang jauh dari kesibukan kita sekarang. Nanti saat kita mulai menua, tidak terlalu tua, tapi mungkin di usia sekitar awal empat puluhan. Aku ingin menghabiskan waktu denganmu, mengingat Tuhan, menghargai waktu. Bahkan aku berharap tinggal di tempat yang tidak ada listrik, bergelap-gelap berdua dalam doa, tidak perlu ada Tv, cukup suara kita, aku ingin penghujung waktu benar-benar mengisi hidupku denganmu. Mengganti hari-hari kita yang pernah dicuri kesibukan.

"Aku ingin tinggal di rumah kayu sederhana"

"Apa pun maumu"

"Aku ingin denganmu saja"

"Aku pun begitu"

Percakapan singkat yang manis. Aku rasa berbuka puasa dengan membaca pesan-pesanmu sudah sangat mengisi energiku, aku tidak tahu di antara kita siapa yang beruntung mendapatkan siapa, yang jelas kita berdua beruntung karena saling memiliki.

Ratus ribu jutaan sketsa mimpi yang terucap tak pernah putus aku aamiin--kan, kau tahu setinggi apa aku sandarkan cita-cita dan pengharapan pada pundakmu? Sangat tinggi. Aku yakin kau sangat kokoh untuk menampung mimpi-mimpiku. Mungkin aku seperti mesin reproduksi mimpi dan kau kenyataan yang berwujud, bisa kupeluk, dan menampar-namparku untuk terus mewujudkan semuanya. Aku ingin denganmu, dalam setiap doa ucap itu tak putus kupinta.

Aku ingin menikmati udara pagi, berjalan tanpa alas kaki, menyium aroma mawar pagi hari, memasak sayur-sayuran yang kita tanam di halaman belakang, berternak itik, ayam dan ikan. Sebulan sekali kita ke kota dengan mobil pick up untuk membeli perlengkapan rumah, perjalanan jauh dan tua yang menyenangkan. Sepanjang jalan menikmati lagu-lagu kini yang akan berubah jadi lagu-lagu nostalgia nanti. Menyambut senja bersama terpaan hangat aroma dandelion yang sederhana, Selepas makan malam, kita akan duduk di beranda, menelpon anak-cucu kita, menanyakan kabar mereka, melihat bintang, hujan, atau apapun yang diturunkan Tuhan untuk kita nikmati, mengisi dan terus mengisi. manis--sangat--manis.

Malam hari, menjelang tidur aku akan memelukmu erat, dengan balutan selimut hangat. Tertawa-tawa tentang apa-apa yang konyol, bercerita tentang hari-hari pernah sibuk yang membosankan. Merencanakan bangun pagi dan berjalan-jalan untuk kesehatan, menanyakan besok kau mau makan apa? Dan seperti yang sudah aku tahu, kau pasti akan menjawab, sambal goreng telur puyuh atau ayam goreng dan semua makanan yang bersambal. Sebelum tidur kita akan berdoa, untuk terus melihat satu sama lain sampai pagi datang dan datang dan datang mengulang hari, mengulang apapun yang terjadi denganmu, sampai kita benar-benar pergi pada perjalanan jauh yang lain.

Kamis, 10 Juli 2014

#KAMISAN 8 : Perlina - Neng Ai



Kejadian ini terjadi beberapa bulan lalu, saat aku pulang kampung ke suatu daerah sebelah barat Tasikmalaya. Ada satu tradisi di kampungku pada hari tertentu di beberapa bulan tertentu sekitar pukul 11-12 malam, anak-anak laki-laki dan bapak-bapak berpawai obor keliling desa. Dimulai dari gapura yang ada tepat di pintu masuk dan berakhir di kompleks perkuburan warga setempat.

Aku sempat bertanya pada Nini (panggilan untuk nenek) kenapa pawai ini harus diakhiri di perkuburan tua yang menyeramkan itu, kuburan di kampungku terkenal angker, hampir setiap kali mengadakan tradisi pawai obor keliling selalu ada yang kesurupan di daerah itu. Suhu di perkuburan pun sangat dingin, dingin yang mencekam, yang merindingkan bulu-bulu kudukmu, membuat kaku ujung kaki-kakimu dan membuat matamu selalu waspada pada setiap sudut.


"Rek kumaha ge sadaya jelema pasti maot, jadi panghuni kuburan keur ujung kahirupan, kari ngadagoan dinten amal jeung dosa urang dietang. Mantakna pawai obor teh diujungan di kompleks kuburan ujung desa" kata nini.


Dan benar kehidupan manusia berujung pada kematian. Mungkin tradisi ini sebuah penyadaran, untuk kita tetap menjaga apa-apa yang kita buat.

Kuburan di kampungku memang letaknya berbatasan dengan ujung desa, langsung dengan bukit-bukit dan hutan-hutan bambu lembab. Sekitar 1 minggu yang lalu, di sana ditemukan mayat Neng Ai, bunga desa yang terbunuh tragis, mulutnya sobek, tubuhnya penuh luka lebam, beberapa bagian wajahnya rusak akibat siraman air keras. Neng Ai, Kasihan betul Neng Ai, batinku. Padahal selama ini Neng Ai terkenal ramah dan baik, tidak pula memiliki musuh. Nasib buruk menimpanya saat dia memutuskan menikah dengan pejabat desa sebelah, Neng Ai mati dibunuh istri sah lelaki yang menikah sirih dengannya 7 bulan lalu. "Hah, kumaha jadi teringat Neng Ai kieu" aku tersetak dari lamunanku dan bergegas menuju kamar mandi untuk bersiap-siap mengikuti pawai obor nanti malam. Aku merasa ada sesuatu yang memantau setiap gerak-gerikku, sesuatu yang tidak terlihat.

*

Malam itu, udara dingin, wajar saja, sore tadi hujan menguyur bumi sangat deras. Pawai obor baru akan dimulai setelah pembacaan doa pembuka. Cahaya dari obor dan bunyi-bunyi kentongan yang dibawa warga, mengisi malam dingin desa. Kami mulai berjalan berkeliling. Sepanjang jalan aku sendiri sibuk mengabadikan gambar-gambar tradisi desa kami, tak ingin momen ini perlina begitu saja termakan zaman, tergerus waktu.

Setelah dua jam pawai obor, kami mulai memasuki kompleks perkuburan untuk penutupan pawai. Disekeliling kuburan terdapat hutan-hutan bambu lebat, lembab dan tinggi. Perasaanku mulai tak enak, aku memandang sekelilingku, semua masih biasa.

Acara penutupan dimulai, awalnya kami sama-sama berdoa yang dipimpin sesepuh desa, suasana sangat hening. Entah mengapa sedari tadi aku merasa ditatapi. Lalu sayup-sayup terdengar olehku potongan tembang Lingsir Wengi, aku tidak tahu dari mana asalnya. Pelan, tapi menyakitkan telinga.

"Lingsir wengi sliramu tumeking sirno, Ojo Tangi nggonmu guling
awas jo ngetoro..."

Aku melihat ke sebelahku, mang ujang masih saja merunduk berdoa, lalu aku memandang sekelilingku, tanpa sengaja mataku menangkap sesuatu di antara rimbun pepohonan bambu, sesuatu yang putih dan melayang. Aku langsung menunduk, jantungku berdetak keras sekali, dalam hati aku tak sudah berdoa, aku sangat takut saat itu. Tidak lama terdengar suara cekikikan wanita, merindingkan bulu kudukku. Aku melihat kembali ke arah mang ujang dan yang lain, mereka seakan tidak terganggu, seperti tidak mendengar apapun. Lalu entah kenapa, aku merasa tubuhku berat. Sangat berat dan panas, aarggghhh..kepalaku begitu sakit. Orang-orang sekelilingku menjauh, mereka membaca doa dan melihat-lihat ke arahku, aku merasa tubuhku semakin panas. Aku kembali mendengar suara cekikikan itu, semakin dekat. Astaga..! Aku mendengarnya dari mulutku, aku dengan tanganku yang bergerak-gerak seolah sedang merapikan rambut, aku merasakan tanganku membelai rambut yang sangat panjang menjuntai seperti berasal dari kepalaku. Sesepuh desa mendekat ke padaku, membacakan doa-doa yang semakin lama semakin membuatku panas. Kepala ini seperti tertusuk ribuan paku beton, sakit, sangat sakit. Lalu terdengar tangisan dan suara menyedihkan seorang wanita.


"Aku teh Neng Ai, pak. Aku teh Neng Ai... huhuhuhu" entah bagaimana suara wanita itu keluar dari mulutku, aku berbicara di luar keinginanku. €Tubuhku saat itu terasa sangat berat.

"Neng Ai, pulanglah, alammu bukan di sini. Jangan ganggu"


"Tolong, saya mau minta tolong. Tolong sampaikan ke ibu neng Ai minta maaf tidak mendengar ibu, tolong bilang ke ibu, neng Ai tidak pernah tenang sebelum ibu maafkan"


Akhirnya sesepuh desa memegang kepalaku. Aku meronta kuat, memaki-maki dan menatapnya tajam, tapi perlahan tubuhku merasa ringan dan pelan-pelan semua berputar, gelap dan semakin gelap.

*

Saat bangun, aku sudah berada di rumah, ramai sekali. Kata nini, aku sudah tertidur selama tiga hari, kadang menangis, tertawa, cekikikan terus menerus, ternyata aku keserupan arwah Neng Ai, ia menempati tubuhku selama tiga hari ini dan tadi sekitar dua jam yang lalu Neng Ai baru saja pergi, setelah ibu--nya datang dan memberikan maaf pada Neng Ai. Malam itu kami mengadakan doa bersama, untuk Neng Ai, agar tidak menganggu lagi.

Inspiresyen: Nightmare Side radio Ardan 105.9FM Bandung, setiap hari kamis dari pukul 22.00-24.00 wib. Bisa streaming lewat gadget kamu loh. Tapi ingat...Jangan prnah dengerin Nightmare Side sendirian, apalagi sama pacar orang. JANGAN! (Puas lo Ndra, Mus, Ky, PUAS LO? )

Minggu, 06 Juli 2014

Siluman Amoeba Dan Gelitik Rindu--Nya

"Iya, seperti ini lah perjalanan, duduk berjam-jam di dalam kendaraan beroda empat lalu membayangkan kamu yang ada di sampingku"

Saat mengembara pun aku masih berpikir tentangmu, aku rasa dari awal pertemuan kita debar ini tak pernah reda, kata teman-temanku usia kita sudah melebihi cicilan kredit sepeda motor, mesin cuci dan alat-alat apapun yang mereka sama kan tapi jelas beda ini kan kredit cinta sebelum naik pelaminan (Aamiin) sepanjang jalan ini aku berharap mengenggam tanganmu, tapi yang aku genggam sedari tadi hanya tanganku, kamu tak ada di sini, tapi hangatmu tak pernah lepas bahkan setelah beribu-ribu kali aku mandi, mengosok-gosok tubuh dengan sabun, pembersih lantai atau pemutih pakaian, tidak pernah hangatmu tidak pernah lepas.


"HUBUNGAN JARAK JAUH YANG MENDADAK SETELAH SEBELUMNYA LIMA LANGKAH ITU TAK HENTI-HENTINYA AKU KUTUK"


Kadang ada rasa senang, katanya saat hubungan ini diuji artinya semakin banyak susah senangnya artinya lagi semakin tidak gampang untuk saling melepas genggamannya, tapi tidak jarang juga aku mencaci-caci (dalam hati) pasangan yang tanpa sengaja bermanis-manis di depanku, dan saat kesadaran kembali. Aku pun sering seperti itu denganmu bukan? Dan mungkin ini juga yang dirasakan orang-orang yang tanpa pasangan atau sedang berjauhan dengan pasangannya dulu. Ternyata karma itu berputar sama, atau lebih pedih karena hati yang rasa beda-beda. Tapi setidaknya dari sini nanti aku bisa belajar mulai menjaga perasaan orang lain.


"JADI AKU MEMBUAT TULISAN KACAU INI SEBAGAI PENENANG HATI YANG RINDU SEDANG MELEBAR--MELEBUR DALAM DADA"


Rindu mendadak terlalu lebar terlalu penuh, dan mulutku mendadak terlalu malas untuk berbicara dengan teman-teman seperjalananku, sedari tadi aku mendengar mereka dengan telinga tembus, istilah guru-guru SMA zaman dulu saat anak-anak tidak menyimak pelajarannya "masuk kiri keluar kanan" aku tidak bisa menyimak satu pun obrolan teman-temanku, jari-jariku gatal mengirim pesan dan menekan-nekan nomermu. Tapi aku takut itu membuatmu harus berpikir lebih, ada sesuatu yang tidak beres di perjalananku, maka dari itu aku melanjutkan torehan kacau ini.


"RINDU BANGSAT SEJADI-JADI NYA SAAT JARAK MEMBELAH DIRI SEPERTI AMOEBA DAN MENIMBULKAN GELITIK-GELITIK RINDU, TAK KARU"


Kalian tahu amoeba? Makhluk kecil yang bisa membelah diri, ya itu lah kecilnya yang aku tahu. Tapi sialnya JARAK ini SI SETAN SERBA BISA, dia menjelma menjadi siluman amoeba, membelah sesukanya dan berternak rindu dalam hatiku, ujung-ujungnya mata semai airmata. Sial!


"GELITIK RINDU--GELITIK RINDU
BAGAIMANA KAU BISA LUCU
PADAHAL SANGAT MENYEBALKAN
MEMBUAT TERTAWA DAN MENANGIS
DALAM SATU WAKTU
GELITIK RINDU--GELITIK RINDU
COBA SURUH SI SETAN SERBA BISA
MENJELMA MENJADI PELUKAN
AGAR AKU BERHENTI MENGUTUKIMU"

Rabu, 02 Juli 2014

#KAMISAN 7 : Love Game - Ayunan



"Layla, Sayang. Layla, anak ibu yang
paling cantik. Layla, Sayang. Layla,
janganlah Layla bersedih...."

Seorang wanita yang usianya sekitar tiga puluhan, bernyanyi-nyanyi di taman komplek. Pandangan matanya kosong. Ia bernyanyi sambil menyebut-nyebut nama anaknya. Seorang gadis kecil yang kini sudah tiada.

"Laki-laki bangsat! Laki-laki keparat! Kubunuh kau! Kembalikan anakku! Kembalikan anakku!!" tangisnya memecah
senja, begitu kelam.
Beberapa mata menatapnya iba. Kepedihan seorang ibu akan kematian buah hatinya adalah serenade paling pedih.

*

Semoga pasanganku tidak pernah tahu apa yang berkecamuk dalam hatiku sekarang. Semoga dia tidak pernah tahu perasaanku telah membelah. Gadis itu, aku tidak bisa menghindar untuk memikirnya. Dia begitu berbeda dengan yang lain, memperlakukanku sangat lembut. Lelaki mana yang tidak suka kelembutan?

Aku begitu bahagia tiap senja dapat bertemu dengannya, meski kadang pula gelisah saat dia tidak menghampiri taman. Aku takut dia sakit. Takut dia tidak lagi ingin kemari. Takut aku
melukainya, karena itu dia tidak lagi mau bertemu aku.

Jatuh cinta dan bermain dalam cinta itu sangat mudah,
bahkan saat pasanganmu di samping pun kau bisa melakukannya. Sebab isi hati adalah rahasia.

Tapi gadis ini jauh lebih menarik dari dia yang menemani aku
bertahun-tahun. Ya, mungkin kalian pikir aku jahat. Mengkhianati pasanganku untuk seorang gadis yang baru satu bulan ini aku temui.
Namanya Layla. Dia baru pindah dari kota di mana kemacetan adalah jendela. Kota yang kemanapun kau memandang,
hamparan panjang kendaraan akan
terlihat. Debu dan asap adalah isi paru-paru makhluk kota itu. Layla tinggal tak jauh dari tempat tinggalku, taman bermain.

"Video game, A video game that allures me,
You can't block me. You're in
danger right now, join the video game, Love game...."


PERTEMUAN PERTAMA PADA SUATU SORE


Aku terayun-ayun setelah seorang anak lelaki gemuk menaikiku dengan kasar. Kadang dia berdiri dan meloncat-loncat.

Andai aku bisa melemparnya jauh
agar terjungkal mungkin sudah kulakukan. Aku pun terus-terus berdoa agar rantai pengaitku pada tiang lepas, agar
anak ini berhenti menyiksaku.
Aku melirik pasanganku yang diam dan tenang. Dia sangat kaku, tapi dia adalah pasanganku. Tuhan memberi dia untuk menemani hari-hariku.

Ayunanku berhenti, kulihat tangan kecil seorang gadis. Rambutnya panjang hitam diterpa cahaya senja, wanginya serupa permen karet atau wangi permen-permen enak lainnya.

Dia membersihkan aku dengan tangan lembutnya, menyapu-nyapu lembut. Aku merasakan desiran berbeda. Sesekali aku melirik
lagi pada Inka, begitulah kupanggil dia, pasanganku. Aku harap Inka tidak melihat rona-rona merah di serat-serat kayuku saat Layla menyentuh setiap
jengkalnya. Aku jatuh cinta, pada pemainku.

"Aku mengekalkan rasaku dalam senja
Pada warna emas di hamparan hitam rambut
dan aroma tubuh yang luar biasa
Aku jatuh cinta padamu
Bukan aku yang bermain, tapi kau yang
mempermainkanku
Bagaimana benda mati bisa merasa hidup
Kau pemain cinta yang luar biasa
Aku terjerat!"

*

Aku berdoa agar Layla tidak pernah dewasa. Sebelum dia, aku pernah patah hati pada pemainku, juga. Pada seorang gadis manis, berlesung pipi dalam.

Namanya Dhila. Dia gadis lucu, dulu sering bermain di sini, menemani aku, membersihkan serat-serat kayuku yang kadang diinjaki tapak-tapak sepatu
teman-temannya. Paling lucu dari dia adalah gadis manis itu sering membagi gulalinya, membuat aku merasakan cecap manis dan tak jarang tubuhku dikerubutin semut setelahnya. Dhila pergi. Dhila hanya menjadikan aku persinggahan masa kecilnya. Maka, aku harap Layla tidak pernah besar.

*

Hari ini aku menanti Layla, aku sudah tidak sabar ingin berayun-ayun bersamanya, melihat hamparan putih giginya, tawanya yang seakan bisa menetapkan langit tetap biru, dan genggamannya pada rantai-rantai dingin pengaitku.

Tapi hari ini Layla tak datang. Bahkan hari-hari selanjutnya pun tidak, hari selanjutnya, selanjutnya, dan selanjutnya. Layla tidak pernah datang.

Sudah satu pekan dari hari terakhir dia bermain di taman ini, meninggalkan bercak darah di kayuku. Aku melirik Inka, tubuhnya sedikit berayun, masih
kaku, bahkan aku tidak bisa melihatnya tersenyum. Sama seperti dia yang tidak bisa melihatku tersenyum. Aku berharap Layla datang.


30 MENIT YANG MEMATAHKAN


"Kasian ya, Bu. Pasti ibunya terpukul
sekali...."

"Ya, jelas lah, Bu. Wong anak perempuan satu-satunya. Pintar, cantik, dan penurut. Saya aja yang baru bertetangga 1
bulan terasa kehilangan Layla.
Apalagi saya belum punya momongan. Sepi
saya dan suami pecah saat Layla di
sana. Dia anak yang baik, pasti diberikan
tempat yang baik pula."

"Iya, Bu. Tapi yang saya enggak habis
pikir, ya, kejadian meninggalnya
Layla. Tragis. Tega betul pelakunya ya,
Bu!"

Aku ingin tidak mempercayai percakapan dua ibu-ibu yang sedang menyuapi anaknya di taman bermain ini, 30 menit yang begitu mematahkanku. Layla meninggal.

Aku kira dia akan baik-baik saja setelah sore kelam itu. Seorang laki-laki dengan perawakan tinggi, berjambang, dengan rambut gondrong dengan mata merah
frustrasi. Ia memberi permen kepada Layla dan mencoba mengajak gadis itu ikut dengannya. Layla sempat menolak. Dia melawan, mencoba berteriak, tapi apa daya gadis kecil itu tak cukup kuat
melawan. Layla dengan pakaian yang dibuka paksa, di bawah tubuh seorang lelaki yang bertelanjang dari pinggang hingga mata kaki. Tubuh Layla didesak-desak oleh tubuh berat itu, terdengar suara Layla kesakitan.

Untuk pertama kali setelah aku berdiri bertahun-tahun sebagai ayunan, aku mengutuk diriku menjadi benda mati. Aku mengutuk posisiku yang menjorok ke dalam. Tidak ada yang bisa melihatnya
menyiksa cintaku.

Layla-ku diperkosa. Setelah puas berayun-ayun dengannya, lelaki itu mencampakkan Layla dari atas tubuhku--dengan ayunan sangat keras. Aku dan Inka adalah saksi bisu, melihat tubuh Layla jatuh berdebum di atas tanah. Kepalanya membentur batu, sedikit bercak
darah tertinggal di serat kayuku.
Laki-laki itu pergi, katanya ini
pembalasan untuk ibu Layla yang
memecatnya. Layla-ku diam, tertidur, dengan darah yang mengaliri kepala. Rambut-rambut hitamnya basah. Sampai beberapa orang menemukannya selepas azan Isya. Itu pertemuan terakhirku dengan Layla yang hidup. Tadinya aku berharap Layla baik-baik saja, tapi harapanku sudah
terjawab. Layla tidak baik-baik
saja dan kini dia sama seperti aku dan Inka, tanpa nyawa, tanpa kehangatan.

Aku masih sering mendengarnya tertawa, setiap malam. Dia masih sering duduk di sini, dengan tawanya yang menyeramkan. Mungkin merindingkan bulu-bulu kudukku, jika ada.

**