Aku mengenggamnya. Tangannya hangat, aku selalu mengenggamnya tangannya erat. Anya duduk di bawah pohon jambu yang rindang, bunga-bunga jambu luruh. 'Mungkin itu seperti bulu matamu yang setiap hari jatuh karena rindu-rinduku' Anya berbicara pada seseorang bertangan hangat dengan genggaman erat itu. 'Kamu tahu aku sangat merindukanmu? Aku memikirkanmu setiap saat ' lanjutnya.
Menunggu senja di bawah pohon jambu dengan sebotol teh manis yang dibuatnya sendiri sering ia lakukan saat rindu memenuhi rongga dadanya. Selalu dengan seseorang bertangan hangat yang memiliki genggam yang erat. Anya meminum teh manisnya 'Rindu akan manis setelah aku meminum ini' yakin nya.
'Teh manis untuk rindu yang sadis, kita jauh sayang. Aku mengenggam tanganku sendiri dan merasakan hangatmu, aku memaniskan bibirku dengan teh manis ini sebagai ganti bibirmu yang aku tahu sia-sia. Aku bersandar ke batang jambu seakan sedang bertopang pada punggung kuatmu. Tapi bunga-bunga jambu ini membuatku sadar itu bukan bulu matamu. Aku sendiri, delusi. Yang nyata saat ini adalah rinduku yang meruah riuh selebihnya aku sedang menunggumu'
Anya bicara sendiri, dia menangis sesegukan meresapi setiap kata yang keluar dari mulutnya. Jika itu puisi, itu adalah puisi yang perih untuk hatinya. Dia merindukan lelakinya, lelaki yang saat ini sedang jauh. Lelaki yang sedang mengejar impian untuk membahagiakan cita-cita.
'Jarak membantaiku dengan rindu, kamu tahu?' Suara Anya kembali terdengar, lirih. Tapi cukup besar untuk didengar telinga lelaki di belakangnya.
Handphone Anya berdering, pesan masuk.
'ya aku tahu sayang, aku pun dibantai rindu saat kita jauh. Boleh aku minta teh manis yang kamu bilang peganti bibirku? Aku haus, nih. Baru nyampe, kamu kalau mau peluk aku, aku ada di belakangmu... hahahaha'
Anya berbalik, hujan turun dengan gemuruh di dada. Pesan singkat tadi seperti tarian hujan yang memancing kedua awan hitam matanya untuk segera basah.
' Lelakiku tersenyum, manis sekali. Tangannya hangat, genggamannya erat'
Tidak ada komentar:
Posting Komentar