Malam, aku jauh dari nya dan aku sangat merindukannya. Saat rindu datang, mataku benar-benar sulit untuk memejam. Setiap malam, aku sulit memejam. Aku merindukanmu, bagaimana kamu? Apa sama? Iya. Aku tahu sama. Aku tahu, aku sering merasa kamu mengingatku dari pesan-pesan kecil yang sering kamu kirimkan. Jarak kita jauh tapi hati kita tidak, itu hal yang aku syukuri. Jangan pernah jauh.
Malam, aku jauh darinya dan aku merasa tempat tidurku tidak nyaman. Aku merasa tangan dan handphone menjadi sesuatu yang terlalu lengket, aku merasa tidak bisa berhenti menulis sesuatu untuk meredakan cemas, walau pun tidak ada sesuatu yang harus aku khawatirkan dengan terlalu. Hanya saja aku ingin terus menulis sesuatu, sesuatu yang kamu. Tapi itu tidak mengurangi apapun, tidak mengurangi segala rindu dan segala inginku memelukmu.
Malam, aku jauh darinya. Mataku lekat memandang benda persegi yang kata orang ini foto. Tapi kataku ini ingatan dalam bentuk yang bisa disentuh tangan dan bisa dikecup bibir. Aku memandangnya tidak henti, aku menaruhnya di dompetku, di kamarku, di meja kerjaku, bahkan di selipan buku-ku. Aku ingin terus menatapnya lekat-lekat. Aku tidak bisa berhenti. Ini candu.
Malam, aku jauh darinya. Mulutku tidak bisa berhenti berdoa merapal namanya. Mungkin ini bagian terbesar dari rasa yang aku punya, saat aku terus berdoa untuknya adalah waktu di mana aku terus mencintainya dengan cara yang baik, doa.
Ini mungkin puisi, mungkin juga bukan. Tapi yang pasti ini rasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar