Jumat, 15 November 2013

Toples Kunang-Kunang

Aku minta bintang
Kamu beri setoples kunang-kunang
Dia hiasi malam
Cukup terang untuk di pandang
mataku berlinang
Merindukanmu semua kenangan genang
Sayang peluk aku
Hapus jarak antara mata mu dan aku
Sayang peluk aku
Aku menunggu tak jemu-jemu

Aku kembali minta bintang
Tapi lagi-lagi kamu cuma punya setoples kunang-kunang
Aku terima
Aku tau itu rasa sayang

Sekarang aku berhenti minta bintang
Karena ternyata hati kamu lebih terang


Rabu, 13 November 2013

Daun Kehujanan

Daun kehujanan
Dia kedinginan
Dia kejatuhan
Dia lepas pegangan
Daun kehujanan dia menangis sesegukan
Dia bosan ditelantarkan
Dia rindu pelukan
Ranting patah
Dia jatuh
Dia terbang
Dia mengambang
Daun kehujanan
Besok hari kering
Warnamu menguning
Mati perlahan
Pelan-pelan
Daun kehujanan
Kemarin malam kedinginan

Petak Umpet Ayah

"...28,...29,...30. Pada hitungan ke 30, Aku mulai mencari ayah." "

 Aku menutup mata bersembunyi dibalik pohon sambil berhitung, ini giliranku jaga. Baiklah ayah sudah sembunyi, aku mencari. "Ayah!!" Teriakku di balik tembok belakang, Tidak ada disini. Aku kembali mencari, ku padangi rimbunan bunga yang bergerak. Baiklah, ayah pasti disana. Aku mengendap perlahan. "Ayah ketemu", tidak ada.

"Ayah ... Ayah... Dimana, hujan lelah. Hujan sudah cari ayah dimana-mana kenapa masih sembunyi"

 Aku terduduk sesaat berpikir kemana ayah, dimana ayah sembunyi sambil memandangi pohon mangga yang dulu kami tanami bersama, sudah besar.

"Ayah! Ayah dimana"

Handphoneku berbunyi

"hai sayang, apa kabar nak?. Maaf minggu ini ayah tidak bisa pulang, masih ada pekerjaan yang harus di selesaikan"

Diam, ayah tidak ada disini. Dia belum pulang.

Jumat, 01 November 2013

Panggil dia kupu-kupu

Panggil saja dia kupu-kupu
Siang dia mencari, malam dia coba memacari.
Bukan tanpa alasan atau kepuasan diri.
Tapi untuk perut-perut kosong anak-anaknya yang meminta nasi.

Panggil saja dia kupu-kupu
Lelah pun dia pasrah, tidak mengeluh dengan senyum bibir tanpa lesu.
Agar anak-anaknya bisa minum susu.

Panggil saja dia kupu-kupu
Tak jarang dia pulang membawa biru.
Bekas di dada, lengan atau bagian manapun.
Tak jarang!

Dia kupu-kupu, ya benar.
Apa? Kenapa? Jika ada pilihan dia pun tak mau begitu.
Dia kupu-kupu, ya benar.
Apa? Kenapa? Jika ada pilihan dia pun malu.
Dia kupu-kupu, ya benar
Apa? Kenapa? Jangan pandang dia seperti debu bakaran "asu"

Putar otakmu, putar otakku. Mereka manusia, mereka sama seperti kita. Ulurkan tanganmu, ulurkan tanganku.
Bantu mereka, bantu kupu-kupu.
Mereka punyak hak untuk hidup baru

Bumi Hujan

Dear kekasihku Bumi,

 kalau sebuah awan bisa berjalan beririgan dengan angin tanpa harus menimbulkan petir. Kenapa hujan harus hancur untuk menyetuh bumi?. Saat aku mencintai bumi, artinya aku membiarkan diriku hancur menghantamnya, pecah membelah dan menyerap di dalamnya, memberikan dia beribu tahun kehidupan baru dan menghabiskan hidupku dalam satu waktu tuk mencintainya.
 Aku bahagia menjadi hujan yang membasahi kekeringan tanah bumi ku, Aku bahagia menjadi hujan yang memberinya minum saat matahari mencakar-cakar tubuhnya, Aku bahagia menjadi hujan dan menghancurkan diriku hanya dalam satu waktu untuk mencintai bumi. Kamu bumiku!